Makna Seorang Teman

Pada suatu sore, sebelum beranjak untuk mandi, sejenak saya menatap ke arah handphone nokia jadul yang saya beli tahun 2010 lalu. Ternyata ada satu pesan yang masuk. Saya tekan tombol paling kiri sebelah pojok atas, ternyata setelah dilihat, pengirim SMS [Short Message System] tersebut adalah Suci Hati. Teman sekelas dan sekaligus masih satu kecamatan, kami dulu sekolah di Madrasah Aliyah.

Isi pesan itu cukup singkat kira-kira berbunyi seperti ini, “Ass,, pie kabare tmen2 smua??” dengan reflek saya pun membalas  SMSnya. Kebetulan pada waktu itu masih ada sisa pulsa, jadi bisa saya balas dengan cepat. “Alhamdulillâh baik, Ci… kabar ente juga gimana..?” Saya pun mencoba menanyakan balik tentang keadaannya.

Sekilas pesan itu sangat pendek, tidak terlalu bermakna atau bahkan tidak berguna sama sekali. Tetapi menurut kaca mata saya, pesan ini sangat dalam, menyimpan beribu-ribu makna yang sangat-sangat penting. Bisa saja ketika pesan itu dikirim, sang pengirim sedang merasa kesepian karena butuh teman untuk mengobrol, bercanda dan lain sebagainya.

Bahkan pesan ini dapat memiliki makna yang begitu besar ketika dua sahabat yang sudah lama tidak bertemu karena terpisah oleh jarak, kesibukan, bahkan karena sudah memiliki keluarga sendiri. Teman, ialah orang yang begitu berjasa ketika hidup ini terasa sunyi, sepi dalam keheningan. Teman bisa dianggap melebihi keluarga, bahkan teman dapat menggantikan posisi orang tua itu sendiri. Lebih tepatnya ketika kita jauh dari saudara dan orang tua.

Begitu besar arti teman dalam kehidupan ini, tak terbayang jika ada orang yang dalam kehidupannya tidak memiliki teman. Seorang istri tak lain merupakan teman hidup bagi suaminya. Selalu menemani dan menjadi tempat berbagi dikala susah mau pun senang. Teman yang sejati adalah teman yang setia menemani apapun kondisinya, dikala senang tetap bersama dan begitu pula ketika masalah menimpa. “Mawaddatu ash-shodiqi tadzharu waqta adh-dhiqi” artinya : kecintaan seorang teman itu akan terlihat pada saat kesulitan.

Seorang teman merupakan cerminan dari temannya yang lain, pepatah yang sering kita dengar juga adalah “jika ingin mengetahui seseorang seperti apa dan bagaimana sifat dan kelakuannya, maka lihat saja siapa temanya.” Sudah sangat jelas, jika teman yang baik akan memberikan dampak yang baik terhadap teman yang lainnya. Tetapi jika teman itu “tidak baik” maka hanya akan bedampak pada hal-hal yang buruk pula.

Pepatah yang familiar kita dengar “berteman dengan pedagang minyak wangi otomatis akan kebagian wanginya.” Sudah bukan rahasia umum lagi jika berteman dengan yang berperilaku bejad/buruk tentu akan berdampak buruk. Tetapi tidak sebaliknya, ketika kita berteman dengan orang yang baik, tentu kebaikan itulah yang akan kita terima. 

Memilih Teman

Bergaul dengan memilih teman itu harus dilakukan, karena demi kebaikan serta manfaat yang akan diperoleh nantinya. Kenapa harus milih-milih teman? Analoginya sederhana.  Ketika Kita membeli sebuah barang tentu ada proses memilah dan memilih. Barang yang lebih bagus, besar dan kualitasnya baik itu yang dipilih. Tujuan dari memilih itu adalah untuk memperoleh hasil yang maksimal, tahan lama, awet dan kuat. Tetapi jika asal dalam membeli, (tidak pandai memilih) tentu yang ada malah “kecolongan.” Setelah sampai di rumah ternyata baranganya rusak, penyok, cacat dan sebagainya. Itulah akibat tidak pandai memilih.

Teman yang baik adalah yang mengajak kepada kebaikan, tetapi jika teman malah menjerumuskan dan mengajak kepada hal-hal yang tidak baik, maka sesungguhnya ia adalah musuh. “Khairu al-ashẩbi man yadulluka ‘ala al-khoiri” artinya : sebaik-baiknya teman adalah yang menunjukan kepada kebaikan. Harus dipahami betul pepatah ini. Kebanyakan kita salah kaprah. Mentang-mentang teman tetap saja dibela, padahal sudah jelas-jelas salah. Hal-hal sepert inilah yang seharusnya diluruskan.

Dari satu sisi ada juga yang mengatakan bahwa, sebetulnya ketika berteman itu tidak mesti memilah dan memilih. Pendapat seperti ini tidak salah, dan saya pun tidak menyalahkan. Setiap orang memiliki cara pandang yang berbeda, gaya berfikir berbeda pula. Sehingga akan berpengaruh terhadap aplikasi orang tersebut. Bagi yang setuju dengan pendapat seperti ini silakan saja.

Hemat saya, jika posisi pertahanan sudah kita kuat, atau dengan kata lain kita sudah betul-betul matang dalam bergaul ya kenapa tidak. Kita sudah tidak terpengaruhi oleh orang lain dan sudah mantap secara lahir maupun batin. Tak hanya itu, memiliki ketegasan serta komitmen yang kuat terhadap ajakan yang menyimpang, menjadi catatan juga. Berani mengatakan tidak dengan tegas.

Jika teman berbuat salah, maka sebagai teman harus berani mengatakan salah, dan ketika benar maka katakanlah itu benar. Tetapi ini sangatlah sulit. Secara tidak langsung kita sendiri mengalami perang batin. Bahkan tak jarang hanya karena hal seperti ini pertemanan tersebut menjadi renggang dan kemudian berakhir. Ketika mengatakan tindakan yang teman kita lakukan itu salah, berarti kita sudah bisa menjalankan pepatah “Qul al-haqqo walau kẩna murron” Katakanlah kebenaran itu walaupun pahit. 

Mendapatkan Teman

Tidak ada gading yang retak. Tak ada manusia yang sempurna, istilah bahasa inggrisnya no body one is perpect. Ya, kata-kata itu paling tepat untuk diungkapkan. Dalam hal pertemanan. Mencari teman yang sempurna tentu tidak akan pernah ada. Walau pun dicari hingga ke ujung dunia pastilah tidak akan pernah menemukannya. Ingat, karena setiap manusia memiliki sisi kelemahan dan kekurangan.

Pepatah arab mengatakan “Man tholaba akhon bilẩ‘aibin baqiya bilẩ akhin” artinya : siapa saja yang mencari teman yang tidak bercela maka ia tidak akan mempunyai teman selamanya. Misal, lantaran teman-temannya tidak ada yang baik, akhirnya kemudian memilih untuk tidak memiliki teman. Tentu sikap seperti ini salah. Alangkah lebih baiknya jika kita tetap berteman, dan menjalin tali silaturahmi. Bagaimana pun teman itu penting dan kita butuhkan. Manusia itu makhluk sosial jadi butuh dengan teman. Dengan demikian justru disinilah kita bisa saling mengingatkan, ketika teman salah atau pun sebaliknya.

Rata-rata teman yang saya miliki semuanya baik. Hanya beberapa yang belum baik (bukan tidak baik). Saya tahu dan mengerti kenapa ia seperti itu, sehingga sebagai seorang teman sebisa mungkin saya pun mengingatkan dan mengajaknya ke arah yang lebih baik lagi. Alhamdulillâh dengan izin Allâh sedikit demi sedikit akhirnya mau berubah.

Jika memiliki teman yang sedang mengalami masalah, maka rangkulah dan berilah motivasi. Katakan bahwa kita adalah temannya. Jika ia mengatakan tidak memiliki siapapun maka kita katakan bahwa kita bersamanya. Itu adalah dukungan, dan secara tidak langsung itu adalah tanda sebuah perhatian kita sebagai seorang teman yang baik. Minimal ada ketika teman kita mendapatkan musibah.

Teman yang saat ini kita miliki, jaga dan sayangilah mereka. Jauhnya jarak yang memisahkan, bahkan waktu yang berbeda, bukanlah halangan untuk terus menjaga per-teman-nan jauh di sana. Teman merupakan keluarga, tatkala merangkai sejarah perjuangan hidup kita. Tak terasa sudah berapa banyak kita memiliki teman, seratus, seribu, atau bahkan lebih. Teman-teman kecil, teman-teman bermain dulu, kini hanya menjadi kenangan terindah, dan tak dapat dilupakan.

Berbuat baiklah terhadap teman. Kelak karena kebaikan itulah kita akan tetap dikenang, diingat dan menjadi bagian terindah dalam sejarah bagi teman-teman yang lain. Teman-teman saya sudah sangat banyak, sehingga banyak juga yang terlupkan. Teman dikampung dulu, teman Sekolah Dasar (SD), MTs, MA hingga kini. Terima kasih buat kalian yang telah menjadi bagian dari sejarah hidup ini. Semoga kelak kita dipertemukan dan semoga diberikan jalan kemudahan oleh Allâh swt.

Ikhtitâm

Teman merupakan bagian yang tak dapat terpisahkan dari kehidupan ini. Tanpa kehadiran teman kita bukanlah apa-apa, dan bukan siapa-siapa. Dalam cakupan yang luas, teman juga bisa diartikan sebagai orang yang menemani kebersamaan dan membantu kita, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Pertemanan dijalin atas dasar kedekatan. Itulah yang saat ini pahami, dan itu makna yang sangat sempit sekali. Teman adalah yang membersamai kita, tidak mesti harus ada dasar kedekatan. Misal, saya ini mahasiswa angkatan 2013. Jadi, bagi yang masuknya tahun yang sama berarti kita adalah teman. Dari proses teman itulah kemudian ada istilah pertemanan yang kemudian semakin akrab dan lebih mengenal antara satu sama lain, dan akhirnya jadilah teman yang akrab atau teman dekat.

Siapapun teman kita saat ini maka jagalah, sayangilah, cintailah dan hormatilah seperti kita menyayangi keluarga kita sendiri. Jika teman sedang kesusahaan maka bantulah. Jika teman sedang bersedih maka hiburlah. Jika teman sedang sedang sakit maka jenguk dan perhatikanlah. Sudahkah kita melakukan hal yang demikian? Semoga kita termasuk dalam kategori teman yang baik. Amîn. Wallâhu’alam []

Amir Hamzah | Div. Pendidikan – Lembaga Pengabdian Masyarakat -PONPES UII

Leave a Reply