Bekerja Dengan Cinta

Suatu ketika ada seorang laki-laki paruh baya yang bekerja begitu keras. Berangkat pagi, pulang hingga larut malam. Pekerjaan itu ia jalani seakan tidak kenal lelah. Ada apa dengan bapak ini? Kok bisa bekerja begitu kerasnya? Saya merasa bingung, tetapi setelah berpikir sejenak akhirnya saya mengambil kesimpulan bahwa bapak tersebut   memiliki sebuah dorongan yang begitu kuat dari dalam dirinya, sehingga  menjadikan dirinya bisa seperti ini. Dorongan apakah itu?

Ya, dorongan itu adalah cinta. Seorang bapak yang bekerja sangat keras, bahkan tidak memperdulikan kesehatan, rasa sakit, dan rasa letihnya tak lain semua itu karena dasar cinta. Cinta kepada keluargalah yang mendorongnya untuk mengerjakan sesuatu, bahkan tidak jarang dengan upaya di luar nalar manusia pada umumnya. Kekuatan cinta tak mampu diukur, dihitung, bahkan mungkin tidak terbatas.

Kita juga bisa lihat perjuangan seorang ibu. Demi sang anak, ia rela bekerja apa pun. Ibu mengerahkan tenaga dan kemampuan yang dimilikinya agar mampu menghidupi anak-anaknya. Sepulang dari bekerja, ibu tidak pernah mengeluh untuk mengerjakan pekerjaan rumah walaupun sendirian. Tak hanya itu, jika anaknya masih kecil, ibu juga menyuapinya dengan penuh sabar. Semua yang dilakukan ibu itu karena satu hal, yaitu cinta.

Kekuatan cinta memang luar biasa, karenanya hidup itu membutuhkan cinta. Cinta membuat kesulitan hidup dapat dihadapi dengan tegar, cinta membuat persoalan yang rumit menjadi mudah, cinta juga membuat seseorang yang lemah menjadi kuat. Jika diuaraikan tentang kemahadahsyatan cinta rasanya tak akan pernah selesai. Cinta menyimpan sumber kekuatan dahsyat yang begitu besar.

Bekerja juga membutuhkan cinta.  Seseorang yang mencintai pekerjaannya akan bekerja dengan penuh kesungguhan, tidak mengenal capek dan putus asa. Namun, apa yang terjadi jika seseorang bekerja dalam kondisi terpaksa, maka yang ada dalam fikirannya adalah beban. Cinta terhadap pekerjaan akan menjadikan orang jauh lebih kuat menghadapi berbagai tekaan dan cobaan. Untuk itu kuncinya adalah satu, yaitu cukup lima huruf; cinta.

Kisah Kerja Keras, Cinta dan Kesabaran

Wama al-ladzdzatu illâ ba’da at-ta’abi, begitulah bunyi pepatah arab. Dalam arti bebas “Kenikmatan itu hanya akan dapat kita peroleh ketika sudah bekerja keras.” Jadi, Tidak mungkin kenikmatan itu datang dengan sendirinya, tanpa diiringi dengan sebuah kerja keras. Lain halnya dengan orang yang sudah senang hidupnya disebabkan dari garis keturuna. Pepatah arab ini tak berlaku lagu bagi orang yang demikian.

Pepatah arab itulah yang dipegang teguh oleh Pak Soleh. Pak Soleh begitulah beliau biasa disapa. Aktifitas Pak Soleh setiap hari adalah menjual soto miliknya. Kegiatan tersebut sudah ia lakoni semenjak usia muda, dan hingga saat ini warung sotonya semakin ramai diburu pembeli. Apa yang Pak Soleh alami saat ini tidak serta-merta datang begitu saja. Butuh waktu dan proses yang sangat panjang, rupanya sudah 30 tahun lamanya Pak Soleh menekuni usaha ini.

Walaupun saat ini sudah memiliki cabang dimana-mana, Pak Soleh setiap hari selalu melayani pembelinya seara langsung, ia tidak pernah memiliki keinginan untuk meninggalkan aktivitas yang sudah lama ia tekuni. Bagi Pak Soleh bejualan soto merupakan hal yang menyenangkan, jadi dari dahulu hingga sekarang ia tak pernah merasa bosan.

Berjualan soto ternyata mampu mengantarkan Pak Soleh dan isterinya berangkat ke tanah suci; mekah untuk menyempurnakan rukun islam yang terakhir. Bahkan Pak Soleh juga mampu membiayai anak-anaknya sekolah keperguran tingi hingga selesai dari hasil jualan sotonya. Ya, kuncinya satu yaitu bekerja dengan cinta, dengan cintalah semuanya terasa nikmat dan membuat diri kita semangat.

Lain halnya dengan kisah pelatih sepak bola dan pendonor ginjal. Suatu ketika seorang pelatih sepak bola divonis oleh dokter dengan penyakit gagal ginjal. Pelatih sepak bola tersebut merasa seperti kehilangan hidupnya, karena tidak bisa berharap banyak dengan penyakitnya. Ia sempat berpikir, siapa yang mau mendonorkan ginjalnya untuk dirinya?

Tanpa disangka, ternyata ia mendapat donor ginjal dari salah seseorang yang mengaku bahwa ia suka dan tertarik dengan karakter pelatih tersebut. Tak hanya itu,  pendonor ginjal pun mengatakan bahwa ia ingin memberikan manfaat hidup bagi orang banyak. Melalui donor ginjalnya ia ingin memberikan lebih banyak manfaat bagi orang lain.

Lain halnya lagi dengan kisah seorang ibu dan anaknya. Anak itu memiliki kaki dan tangan cacat semenjak lahir, tak hanya itu ia juga mengalami keterbelakangan mental. Nama penyakit yang ia derita adalah Lobster Claw Syindrom, tanganna hanya memiliki dua jari yang menyerupai kepiting dan kakinya pun hanya sebatas lutut.

Orang tua mana yang tidak pilu menyaksikan anaknya lahir dalam keadaan cacat seperti ini. Setiap orang tua pasti mengidamkan anaknya lahir sehat dan normal, apa jadinya jika ternyata yang anak yang dilahirkan dalam keadaan tidak normal. Itulah kehidupan, kadang terjadi di luar keinginan manusia. Tetapi disnilah peran orang tua yang menjadi penentu, apakah akan putus asa, mengeluh, dan menyalahkan sang pencipta.

Tidak dengan ibu yang satu ini, meski anaknya lahir dalam keadaan yang serba kurang, ia tetap optimis, sabar, dan tabah dalam mendidik dan membesarkannya. Sang suami hanya seorang pensiunan perusahaan dan telah tiada, saat itu sang anak masih kecil. Walaupun demikian ia tidak menyerah, terus berusaha dengan maksimal dan tiada henti untuk membesarkan anak sematawayangnya itu.

Saat itulah sang ibu mendidiknya dengan penuh kesabaran. Ia didik anaknya dengan kemandirian, percaya diri, dan keterampilan hidup sehari-hari. Walaupun dengan segala keterbatasan, anak itu akhirnya tumbuh menjadi gadis kecil yang mandiri. Disanala ia menemukan jalan hidupnya dan merubah dirinya.

Berawal dari saran seorang trapis untuk bermain piano supaya melatih motorik tangan dan kakinya. Selain itu, bermain musik juga dapat menumbuhkan kecerdasa musikal yang merupakan kelebihan dirinya. Dengan penuh kesabaran sang ibu, akhirnya gadis kecil itu terbiasa memainkannya walaupun hanya dengan empat jari. Setelah berlatih bertahun-tahun akhirnya ia mulai tampil dalam berbagai konser dan tour ke berbagai negara.

Akhirnya, sang anak yang dulu divonis cacat ternyata dapat kembali bangkit dan membuktikan bahwa semua usaha itu akan mendapatkan balasan yang setimpal. Ia sadar bahwa ia bisa menjadi seperti ini berkat dari perjuangan sang ibu yang setia dan begitu sabar merawat dan mendidiknya. Sang ibu pun kini bangga padanya, karena ia sudah menjadi anak yang mandiri dan bermanfaat bagi orang lain.

Kerja Keras

Kerja keras dengan cinta sangat berkaitan. Karena kerja keras tanpa dilandasi dengan cinta tidak akan bertahan lama. Kerja keras tidak akan berbekas, tidak memberikan efek bahkan tidak memiliki kekuatan, jika tanpa cinta. Dari awal sudah dikatakan bahwa cinta itu merupakan sebuah kekuatan, atau lebih tepatnya adalah sebuah ruh bagi kerja keras  itu sendiri. Dengan cinta kerja keras akan terasa lebih nikmat dan bertambah lebih kuat.

Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allâh mencintai salah seorang diantara kamu yang melakukan pekerjaan dengan itqon (tekun, rapi dan teliti).” (HR. al-Baihaki). Tanpa dilandasi dengan cinta, mana mungkin pekerjaan itu akan dilaksanakan dengan tekun, rapi dan teliti. Justru yang ada hanyalah kebalikan dari itu.

Pekerjaan yang dilandasi dengan kebencian, atau dengan kata lain tidak menyukai pekerjaan tersebut justru akan jauh dari kata-kata itqon itu sendiri. Sebagaimana telah disebutkan di atas bahwa konsep itqon itu sudah pasti dapat lahir dari sebuah cinta terlebih dulu. Hanya orang-orang yang bekerja karena cintalah yang akan menghasilkan pekerjaan yang baik, indah bahkan menjadi rapi. Tidak berantakan, acak-acakan dan mungkin terkesan asal-asalan.

Dari sini kita bisa melihat dan memperhatikan seseorang itu bekerja keras dengan cinta ataupun malah sebaliknya. Mungkin kita juga pernah bertanya kepada seseorang yang sedang sibuk bekerja. Jawaban yang diterima kadang sangat variatif. Ada yang dengan antusias menjawabnya, meskipun ia sedang sibuk. Ada juga yang sebaliknya, tidak sibuk tetapi malah tak acuh dan terkesan membuang muka, malah jawaban yang diterima itu ketus, seolah tidak mau tahu dan tidak mau direpotkan.

Intinya kerja keras yang baik adalah kerja keras yanh dilandasi dengan cinta. Salah seorang sahabat pernah mengatakan seperti ini : “Kalau ingin bisa bahasa inggris, yang kamu lakukan pertama kali adalah senengin dulu, atau sukain dulu.. nanti insya allah cepat bisa..” Dari sini saja kita sudah bisa menemukan kata kuncinya. Ya, tumbuhkan dulu rasa suka, cinta dan senang. Niscaya semuanya terasa lebih ringan dan mudah.

Ikhtitâm

Kisah di atas memperlihatkan bagaimana cinta itu “berbicara” dan memberikan “warna” dalam kehidupan kita. Tak hanya itu, cinta sekaligus memberikan dorongan kekuatan yang mahadahsyat, sehingga tak mampu diukur dengan sesuatu apapun. Kekuatan cintalah yang menjadikan seseorang mampu bertahan dan berani berkorban untuk orang yang dicintainya.

Dari kisah pak soleh dapat kita ambil pelajaran bahwa cinta memberikan energi pada setiap orang. Dan cinta pada pekerjaan membuatnya menjadi orang yang sukses. Dari kisah pelatih sepak bola dapat dipetik makna bagaimana mencintai kehidupan agar lebih memberikan manfaat yang lebih banyak lagi terhadap orang lain.

Adapun pelajaran dari kisah Ibu dan anaknya yaitu setiap manusia memiliki cinta. Cinta kepada keluarga, orang tua, anak-anak dan sesama. Maka gunakanlah energi cinta itu untuk membuka semua potensi yang ada. Gunakanlah energi cinta untuk melawan semua bentuk kemalasan, rintangan dan halangan dalam hidup.

Ingatlah, ketika dalam perjalanan hidup banyak rintangan dan tantangan yang menghadang, maka cinta lah yang akan memberikan kekuatan. Ikhlas dan yakin bahwa dengan cinta kita bisa menghadapi berbagai rintangan yang ada, sehingga cinta akan menemukan jalan keluarnya. Wallâhu’alam.[]

Amir Hamzah | Div. Pendidikan – Lembaga pengabdian Masyarakat -PONPES UII

Leave a Reply