FIAI UII DAN HASYIM AS’ARY

November 16th, 2011

Semasa duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah (MTs) dahulu, seorang guru Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKN) menjelaskan bahwa “bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai para pahlawannya”. Artinya adalah bangsa yang besar adalah bangsa yang tahu diri, tahu budi pekerti dan tahu balas budi, sehingga jasa-jasa pahlawan yang telah memperjuangkan Negara ini terus dijunjung tinggi dan dihargai oleh para penerusnya di masa yang akan datang, serta diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari di dalam kehidupan masyarakat, dan bernegara.

Nama-nama gedung Fakultas Universitas Islam Indonesia (UII), kini menjadi salah satu bukti jika bahwa UII menjunjung tinggi dan menghargai para pahlawan dan mahasiswa harus berkaca kepada pendahulu yang menjadi pioneer berdirinya kampus tercinta ini. Dengan demikian maka tidak lagi ada sekat ataupun jarak bagi semua mahasiswa untuk saling membeda-bedakan antar mahasiswa yang lainnya, tak peduli dari fakultas manapun ataupun jurusan apapun, yang penting mahasiswa UII. Kampus ini adalah milik kita semua, bukan milik Badan Wakaf, Rektor, apalagi Dosen. Tetapi kampus ini adalah miliki kita bersama. Harapan dari pemberian nama gedung tersebut, UII sadar betul akan nilai perjuangan dan patriotism para tokoh yang khususnya menjadi pendiri lahirnya kampus UII. Nama tokoh-tokoh besar UII adalah mereka yang ikut andil mendirikan Negara kesatua republik Indonesia (NKRI) dan mahasiswa dituntut  untuk mampu membentuk karakter  seperti mereka dan meneladani apa yang telah mereka lakukan, harapannya adalah agar menjadi orang-orang yang berguna di masa yang akan datang. Jadi pemebrian nama tokoh di fakultas, bukan hanya sekedar sebagai nama biasa yang tidak memiliki arti apapun, ataupun nama itu hanya simbolik semata tetapi nama itu memiliki arti yang sangat dalam dan memiliki cirri khas tersendiri serta memiliki makna tersendiri.

Salah satu tokoh misalanya M. Natsir, yang namanya diabadikan sebagai nama gedung Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP). Beliau adalah salah satu tokoh UII yang menjabat sebagai sekretaris pada waktu UII masih baru berdiri dan pada waktu itu masih bernama STI (Sekolah Tinggi Islam). M. Natsir sangat aktif dan memiliki itergritas, kapabilitas dan intensitas yang tak perlu diragukan lagi. Sampai saat ini pemikiran M. Natsir banyak sekali diikuti oleh banyak mahasiswa terutama mahasiswa sekolah tinggi ilmu dakwah, karena ia memiliki kepribadian yang tegas dan berani. Bahkan ia sempat masuk penjara karena bersebrangan dengan presiden Soekarno pada waktu itu. M.Natsir mempunyai sikap yang tegas, dan tidak mau kompromi dengan Soekarno, dan menolak pengaruh komunisme. Ia ingin menegakkan Islam melalui prinsip-prinsip demokrasi. Meskipun, perjuangan ini menjadi gagal. Tapi, tokoh-tokoh Masyumi telah melakukan ‘sesuatu’ yang berharga bagi masa depan Islam.

Selain M. Natsir, tokoh UII yaitu KH. A. Wahid Hasyim. Ia adalah salah satu tokoh yang menjadi wakil dari PBNU pada saat pendirian STI dan menjadi panitia perancanaan pendirian STI bersama KH.R. Fatcurrahman Kafrawi dan KH. Abdul Kahar Muzakkir yang waktu itu diketuai oleh Drs. Moh. Hatta. Setelah berdiri maka KH. A. Wahid Hasyim ditetapkan sebagai pengurus badan wakaf STI.

Abdul Wahid Hasyim adalah salah satu dari sedikit tokoh NU yang menonjol dan ketokohannya tidak hanya diakui di kalangan NU, tapi juga di kalangan luar. Ada banyak faktor yang menyebabkan ia menjadi seperti itu, selain karena putera KH. Hasyim Asy’ari, Wahid Hasyim, - demikian ia dikenal - sangat cerdas dan gemar sekali membaca. Berkat kecerdasannya dan kegemarannya tersebut ia mempunyai pemikiran yang maju terlebih jika dibandingkan dengan tokoh2 NU pada masa itu. Ia mampu mengikuti perkembangan yang terjadi sehingga dapat “duduk sejajar” dengan tokoh2 nasional yang mendapat kesempatan belajar di bangku sekolah modern.

Wahid Hasyim juga memiliki andil yang besar terhadap negara dan bangsa ini pertama, peranannya dalam memobilisasi para kiai pada masa penjajahan Jepang, sehingga mereka terlibat dalam kegiatan-kegiatan politik - suatu hal yang tidak pernah terjadi pada masa penjajahan Belanda. Kedua, peranannya pada awal kemerdekaan dimana ia turut menyelamatkan persatuan bangsa. Ketiga, Ia berhasil membangun dan mengembangkan Kementrian Agama ( sekarang Departemen Agama ) sehingga dapat menjadi kementrian yang sejajar dengan kementrian yang lain.

Kedua tokoh UII di atas sangat memberikan inspirasi bagi kita semua, khusunya selaku mahasiswa yang kuliah di kampus tercinta ini. Banyak hal yang dapat kita ambil, yang bisa kita tiru, kita teladani, dan kita pelajari dari tokoh di atas untuk terus memupuk semangat dan berjuang di jalan allah swt.

Sebuah nama adalah ciri khas, selain itu sebagai pembeda dan juga sebagai do’a. sebetulnya nama ini akan menjadi beban yang berat, ketika tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Pemebrian nama KH. A. Wahid Hasyim bagi fakultas FIAI, semoga mampu menjadikan fakultas tercinta ini menjadi yang paling berbeda, tentunya dalam hal kebaikan (menjadi uswah). Kemudian mampu melahirkan M. Natsir baru dan melahirkan A. Wahid Hasyim yang baru pula. Semoga dengan pemberian nama ini, FIAI UII menjadi lebih maju dan tetap menjadi yang terbaik. Amiin.

Amir Hamzah

Entry Filed under: OPINI

2 Comments Add your own

Leave a Comment

You must be logged in to post a comment.

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Categories

Edu_kasia

E-Journal

DALAM http://proquest.com/pqdweb http://search.proquest.com DARILUAR http://www.proquest.com/pqdweb u:73CF9PSBJU p:pquii DALAM http://search.ebscohot.com http://infotrac.galegroup.com/itweb DARILUAR http://search.proquest.com u:0RQ6CVXNWC p:pqdikti2011 http://search.ebscohot.com u:ns004253 p:password http://infotrac.galegroup.com/itweb u:kpt05001 p:advance

komentar kamu

my posting

Links