ANDRAGOGI
November 16th, 2011
Oleh : Amir Hamzah dan Abd. Syukur Usman
Serulah kepada jalan tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik dan batahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya tuhanmu, dialah yang lebih mengtahui tentang siapa yang tersesat dari jalanya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapatkan petunjuk. (Qs. An-Nahl ayat : 125 )
A. PENGERTIAN ANDRAGOGI
Andaragogi adalah suatu ilmu dan cara mengajar yang memperlakukan para anak didiknya sebagai manusia dewasa (PPIM UIN Jakarta, 2006) sistem pendidikan orang dewasa mengharuskan tersedianya guru-guru yang memiliki paradigma pemikiran bahwa pendidikan adalah wilayah yang dapat menumbuhkan penyadaran kemanusiaan anak didik. Untuk itu dibutuhkan metode dan cara pandang yang memungkinkan terciptanya penyelenggaraan pendidikan yang memberi kebebasan kepada anak didik untuk berpikir secara dewasa.
Andragogi berasal dari dua kata dalam bahasa Yunani, yakni Andra berarti orang dewasa dan agogos berarti memimpin. Definisi andragogi kemudian dirumuskan sebagai “Suatu seni dan ilmu untuk membantu orang dewasa belajar”. Kata andragogi pertama kali digunakan oleh Alexander Kapp pada tahun 1883 untuk menjelaskan dan merumuskan konsep-konsep dasar teori pendidikan Plato. Meskipun demikian, Kapp tetap membedakan antara pengertian “Social-pedagogy” yang menyiratkan arti pendidikan orang dewasa, dengan andragogi. Dalam rumusan Kapp, “Social-Pedagogy” lebih merupakan proses pendidikan pemulihan (remedial) bagi orang dewasa yang cacat. Adapun andragogi, justru lebih merupakan proses pendidikan bagi seluruh orang dewasa, cacat atau tidak cacat secara berkelanjutan. [4]
B. PEBAHASAN
Ayat di atas ini dipahami oleh sebagian ulama sebagai menjelaskan tiga macam metode dakwah yang harus disesuaikan dengan sasaran dakwah, yaitu dengan hikmah; berdialog dengan kata-kata bijak sesuai dengan tingkat kepandaian. Kemudian terhadap kaum awam untuk mauidzah hasanah yaitu memeberikan nasihat dan perumpamaan yang menyentuh jiwa dan dengan cara jidal atau perdebatan dengan halus dengan cara yang baik dengan logika dan retorika dan tukar pendapat dan dialog terbuka.
C. ASBABUN NUZUL
Ayat ini menerangkan tentang Nabi Muhamad yang diperintahkan untuk mengikuti Nabi Ibrahim as. (bapak para nabi dan pengumandang tauhid) dengan cara tiga cara yang baik, dan harus Nabi Muhamad tempuh guna menghadapi manusia yang beranekaragam tingkatan, dan kecenderungannya; jangan hiraukan cemoohan, atau tuduhan-tuduahan tidak berdasar kaum musyrikin dan serahkan urusanmu dan urusan mereka kepada Allah, karena tuhanmu yang membimbing dan berbuat baik kepadamu dialah sendiri yang lebih mengetahui dari siapapun yang menduga tahu tentang siapa saja yang bejat jiwanya sehingga tersesat dari jalnnya dan dialah saja juga yang lebih mengetahui orang-orang yang sehat jiwanya sehingga mendapat petunjuk[5].
D. TAFSIR
Arti Kata hikmah antara lain yang paling utama dari segala sesuatu, baik penetahuan maupun perbuatan (pengetahuan atau tindakan yang bebas dari kesalahan dan kekeliruan). Hikmah juga diartikan sebagi sesuatu yang bila digunakan/diperhatikan akan mendatangkan kemaslahatan dan kemudahan yang besar atau lebih besar, serta menghalangi terjadinya mudharat atau kesulitan yang besar atau lebih besar. Makna ini ditarik dari kata hakamah, yang berarti “kendali” karena kendali mengahrahkan hewan yang dikendarai ke arah yang kita inginkan. Memilih perbuatan baik sesuai dengan perwujudan hikmah, memilih dua hal yang buruk pun dinamai hikmah, dan pelakunya dinamai hakim. Thahir Ibn ‘Asyur mengggarisbawahi bahwa hikmah adalah nama himpunan segala ucapan atau pengetahuan yang mengarah kepada perbaikan keadaan dan kepercayaan manusia secara bersinambung. Thabathaba’i mengutip al-Raghib al Ashfahani yang menyatakan secara singkat bahwa hikmah adalah sesuatu yang mengenai kebenaran berdasarkan ilmu dan akal. Dengan demikian menurut Thabathaba’i hikmah adalah argumen yang menghsilkan kebenaran yang tidak diragukan, tidak mengandung kelemahan tidak juga kekaburan.[6]
Pakar tafsir al-Biqa’i menggarisbawahi bahwa al-hakim yakni yang memiliki hikmah, harus yakin sepenuhnya tentang pengetahuan dan tindakan yang diambilnya sehingga dia tampil dengan penuh percaya diri, tidak berbicara dengan ragu, tahu kira-kira dan tidak pula melakukan sesuatu dengan coba-coba.
Kata mauidzah terambil dari kata wa’azha yang berarti “nasihat”. Mauidzah adalah uraian yang menyentuh hati yang mengantarkan kepada kebaikan. Demikian yang dikemukakan oleh bnyak ulama. Sedang kata jadilhum terambil dari kata Jidal yang bermakna diskusi atau bukti-bukti yang mematahkan alasan atau dalih mitra dikusi dan menjadikannya tidak dapat bertahan, baik yang dipaparkan itu di terima oleh semua orang maupun hanya oleh mitra bicara. Hendaknya mauidzah disampaikan dengan hasanah/baik, sedangkan perintah berjidal disifati dengan ahsan/yang terbaik, bukan sekedar baik. Keduanya berbeda dengan hikmah yang tidak disifati oleh satu sifat pun. Ini berati bahwa mauidzah ada yang baik dan ada yang tidak baik, sedangkan jidal ada tiga macam, baik yang terbaik dan yang buruk.
Hikmah tidak perlu disifati dengan sesuatu karena maknanya telah diketahui bahwa ia adalah sesuatu yang mengena kebenaran berdasar ilmu dan akal, seperi tulis ar-Raghib, atau tulis Ibn Asyur, ia adalah segala ucapan atau pengetahuan yang mengarah kepada perbaikan keadaan dan kepercayaan manusia secara bersinambung. Di sisi lain, hikmah yang disampaikan itu adalah yang dimiliki oleh seorang hakim yang dilukiskan oleh al-Biqa’i seperti di nukil diatas, dan ini tetntu saja akan disampaikan setepat mungkin, sehingga tanpa penyandangnya dapat diketahui bahwa penyampaiannya pastilah dalam bentuk yang paling sesuai.
E. KONSEP ANDRAGOGI DALAM PENDIDIKAN
Di dalam pendidikan orang dewasa dikenal asumsi-asumsi tentang desain belajar antara lain :
a. Orang dewasa perlu mengetahui alasan mengapa mereka belajar sesuatu sehingga mereka dapat menentukan seberapa jauh dia mempelajari objek belajarnya.
b. Orang dewasa belajar bukan dari ruang hampa tapi dari pengalaman (berdasarkan pada pengalaman)
c. Model pendidikan orang dewasa bertujuan untuk pemecahan masalah
d. Pendidikan orang dewasa dianggap baik dan berhasil ketika persoalan yang dipelajari memiliki nilai langsung.
Dalam sistem pendidikan andragogi ini dikenal prinsip-prinsp sebagai berikut :
a. Peserta didik harus difasilitasi agar terlibat dalam perencanaan dan evaluasi pendidikan.
b. Pengalaman, termasuk didalamnya adalah berbuat kesalahan, merupakan salah satu landasan untuk belajar berbagai aktivitas.
Peserta didik di dorong untuk mempelajari subyek yang memiliki keterkaitan lagsung dengan pekerjaan atau kehidupan personal mereka
Cara belajar orang dewasa jauh berbeda dengan cara belajar anak-anak. Oleh karena itu, proses penyelenggaraan belajar bagi orang dewasa harus didekati dengan cara yang berbeda pula. Menyamakan pendekatan pendidikan anak dengan pendekatan pendidikan orang dewasa dapat mengakibatkan kegiatan pendidikan tersebut menjadi suatu hal yang menyakitkan bagi orang dewasa. Kondisi yang menyakitkan tersebut tentu akan sulit untuk mengharapkan hasil belajar yang maksimal.
Menurut Knowles (1979), perbedaan antara anak-anak dan orang dewasa dalam belajar didasarkan pada empat asumsi tentang orang dewasa. Asumsi-asumsi tersebut ialah: pertama, orang dewasa mempunyai pengalaman yang berbeda dengan anak-anak, kedua, orang dewasa mempunyai konsep diri, ketiga, orang dewasa mempunyai orientasi belajar yang berbeda dengan anak-anak, dan keempat orang dewasa mempunyai kesiapan untuk belajar.
Orang dewasa dalam belajar jauh berbeda dengan anak-anak, Seharusnya menggunakan pendekatan yang berbeda pula dalam membelajarkan anak. Pendekatan yang layak adalah pendekatan andragogi. Bila dihubungkan dengan penyelenggaraan pendidikan yang terorganisir di kelompok belajar, maka pendekatan andragogi akan semakin terasa pentingnya. Sebab setiap kegiatan yang terorganisir sudah tentu mempunyai atau didasarkan pada pedoman-pedoman tertentu. Pedoman inilah yang menjadi prinsip-prinsip kerja agar kegiatan berjalan pada prosedur yang benar dan sesuai dengan tujuan.[7]
Teori Knowles tentang andragogi dapat diungkapkan dalam empat postulat sederhana[8]
1. Orang dewasa perlu dilibatkan dalam perencanaan dan evaluasi dari pembelajaran yang mereka ikuti (berkaitan dengan konsep diri dan motivasi untuk belajar).
2. Pengalaman (termasuk pengalaman berbuat salah) menjadi dasar untuk aktivitas belajar (konsep pengalaman).
3. Orang dewasa paling berminat pada pokok bahasan belajar yang mempunyai relevansi langsung dengan pekerjaannya atau kehidupan pribadinya (Kesiapan untuk belajar).
4. Belajar bagi orang dewasa lebih berpusat pada permasalahan dibanding pada isinya (Orientasi belajar).
Dalam al-Quran, pendidikan Islam telah ada dan nyata. yaitu yang lebih spesifik yang dikatakan fungsi pedagogic missi profetis[9] Nabi Muhamad SAW. Adapun isinya ada lima : pertama membaca ayat-ayat allah, kedua menyucikan diri (tazkiyah an-nafs), ketiga mengajarkan al-kitab, keempat mengajarkan al-hikmah, dan kelima mengajarkan ilmu pengetahuan. Yaitu yang terdapat dalam surat al-Baqarah :
“Sebagaimana (kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.” (QS. al-Baqarah [2] : 151)
Ayat ini memiliki lima komponen yang dijelaskan oleh Muhamad Abduh di dalam Tafsirnya yang berjudul al-Manar sebagai berikut : pertama, yang dimaksud dengan membacakan ayat-ayat kami adalah memebacakan ayat-ayat yang tidak tertulis dala al-Quran (kauniyah). Ayat-ayat tersebut tak lain adalah alam semesta dan isinya termasuk diri manusia itu sendiri sebagai mikro kosmos. Dengan kemampuan membaca ayat-ayat Allah waawasan seseorang semakin luas dan mendalam, sehingga sampai pada kesadaran diri terhadap wujud zat yang maha pencipta yitu Allah SWT.
Kedua, menyucikan diri merupakan efek langsung dari hasil pembacaan ayat-ayat Allah setelah mengkaji gejala-gejalanya serta menangkap hukum-hukumnya. Yang dimaksud dengan penyucian diri ialah menjauhkan diri dari syirik (menyekutukan Allah) dan memelihara akhlaq al-karimah. Dengan sikap dan prilaku demikian fitrah kemanusiaan manusia akan terpelihara. Ketiga, yang dimaksud dengan mengajarkan al-kitab ialah al-Quran al-karim yang secara eksplisit berisi tuntunan hidup : bagaimana manusia berhubungan dengan tuhan, dengan sesama manusia dan dengan alam sekitarnya, karena al-Quran masih bersifat mujmal (umum) maka perlu adanya penjelasan dari Rasulullah yang dalam ayat tersebut disebut al-hikmah. Keempat, yang dimaksud hikmah menurut Muhamad Abduh ialah hadis, tapi jika diartikan lebih luas yaitu kebijaksanaa maka kebijaksanaan hidup berdasrkan nilai-nilai hidup, namun tanpa pedoman yang mutlak dari Allah nilai-nilai tersebut akan nisbi. Oleh karena itu, menurut Islam nilai-nilai kemanusiaan harus disandarkan pada nilai-nilai illahi (al-quran dan sunah rasulullah).
Kelima, adan kenyatan bahwa banyak ilmu pengetahuan yang belum terungkap. Itulah sebabnya Nabi Muhamad mengajarkan pada umatnya ilmu pengetahuan yang belum diketahui oleh umat sebelumnya. Karena tugas utama misi profetis Nabi Muhamad mambangun akhlaq al-karimah, maka nilai-nilai moral yang banyak diajarkan oleh beliau. Namun sebagai antisipasi ke depan dan dalam memberikan wawasan global, nabi banyak menganjurkan umatnya untuk belajar dan mnuntut ilmu dari siapa saja dan dari mana pun sumbernya (tuntutlah ilmu walaupun di negri cina). Disini tampak sekali prinsip liberalisasi pendidikan yang diajarkan oleh nabi. Dikaitkan dengan fungsi pendidkan, lafdz terakhir ayat tersebut mengisyaratkan agar pendidikan berfungsi sebagai pembuka jalan keilmuan yang kan terus berkembang.
F. KESIMPULAN
Serulah kepada jalan tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik dan batahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya tuhanmu, dialah yang lebih mengtahui tentang siapa yang tersesat dari jalanya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapatkan petunjuk. (Qs. An-Nahl ayat : 125 )
Pengajaran yang baik yaitu dengan pengajaran sistem orang dewasa, karena dengan sistem ini akan mudah diketahui dan mudah untuk dicerna dengan baik. Berbeda apabila menajar tersebut dengan metode paedagogi atau tidak memakai metode seperti apa yang telah dituliskan di atas. Dengan demikian maka semuanya terasa lebih mudah dan terasa lebih membumi, lebih diterima, dan tidak merugikan siapapun, karena dakwah itu sendiri adalah mengajak tapi bukan mengejek, menasehati bukan menyakiti dan juga bukan mengajar bukan malah menghajar. Pendekatan pengajaran dengan menggunakan metode andragogi lebih mudah dan bisa dicerna dengan cepat.
Langkah-langkah kegiatan dan pengorganisasian program pendidikan yang menggunakan asas-asas pendekatan andragogi, selalu melibatkan tujuh proses sebagai berikut diantaranya adalah: Menciptakan iklim untuk belajar, menyusun suatu bentuk perencanaan kegiatan secara bersama dan saling membantu, menilai atau mengidentifikasikan minat, kebutuhan dan nilai-nilai, merumuskan tujuan belajar, merancang kegiatan belajar, Melaksanakan kegiatan belajar, dan mengevaluasi hasil belajar (menilai kembali pemenuhan minat, kebutuhan dan pencapaian nilai-nilai. Andragogi dapat disimpulkan sebagai :
pertama, Cara untuk belajar secara langsung dari pengalaman. Kedua, Suatu proses pendidikan kembali yang dapat mengurangi konflik-konflik sosial, melalui kegiatan-kegiatan antar pribadi dalam kelompok belajar itu. Ketiga, Suatu proses belajar yang diarahkan sendiri, dimana kira secara terus menerus dapat menilai kembali kebutuhan belajar yang timbul dari tuntutan situasi yang selalu berubah.
Dakwah dengan mengunakan tiga metode di atas merupakan gambaran umm tentang pendidikan yang baik dan bagaimana seharusnya. Dakwah bukan tugas yang ringan dan mudah akan tetapi penuh dengan rintangan dan halangan yang silih beganti datang dan hanya orang dewasalah yang mampu menerima seruan dakwah.
Dengan melaksanakan kelima fungsi tersebut Nabi Muhamad berhasil secara revolusioner mengubah dan mengembangkan peradaban umat dari jahiliyah menjadi peradaban yang islami. Dengan mengembangakan kajian antropologi dan sosiologi ke dalam prspektif al-Quran dapat disimpulkan bahwa fungsi pendidikan islam ialah :
Pertama, mengembangakan wawasan yang tepat dan benar mengenai jati diri manusia, alam sekitarnya dan mengenai kebesaran ilahi, sehingga tumbuh kemampuan membaca (analisis) fenomena alam dan kehidupan,serta memahami hukum-hukum yang terkandung di dalamnya. Dengan kemampuan ini akan menumbuhkan kreativitas dan produksi sebagai implementasi identifikasi diri pada tuhan pencipta.
Kedua, mambebaskan manusia dari segala anasir yang dapat merendahkan martabat manusia (sifat fitrah), baik yang datang dari dalam dirnya sendiri maupun dari luar. Dari dalam dirinya antara lain kejumudan, taklid, kultus individu, khurofat dan terberat adalah syirik. Terhadap anasir dari dalam ini manusia harus terus menerus melakukan penyucian diri atau yang disebut tazkiyah an-nafs. Sedangkan yang datang dari luar adalah situasi dan kondisi, baik yang bersifat kultural maupun struktural yang dapat memasung kebebasan manusia dalam mengembangkan realisasi dan akulturasi diri. Untuk menghilangkan atau meminimakan anasir dari luar ini harus ada upaya sistenatis dan strategis dari seluruh elemen masyarakat, terutama pemerintah. Dengan semakin minimalnya anasir-anasir tersebut terbukalah jalan untuk optimalisasi realisasi diri dan aktualisasi diri sehingga menuntun hidup individu dan masyarakat lebih arif dan bertanggung jawab.
Ketiga, mengembangkan ilmu pengetahuan untuk menopang dan memajukan kehidupan baik individu maupaun sosial. Untuk mngembangakan ilmu pengetahuan menurut sinyal yang diberikan al-Quran, sebagaimana tersebut pada butir pertama di atas, hendaknya dimulai dengan memahami fenomena alam dan kehidupan dengan pendekatan empirik sehingga mengetahui hukum-hukumnya (sunah Allah).
DAFTAR PUSTAKA
Al-quran Karim, cet. Kelima. UII Peress. Yogyakarta, 2001
Achmadi. Ideologi Pendidikan Islam; Paradigma Humanism Teosentris. Pustaka Pelajar. Yogyakarta- Januari 2005
Shihab, Quraish. Tafsir al-Misbah Pesan, Kesan dan Keserasian al-Quran. Volume 7. Lentera Hati-Jakarta 2002
Soleh, Afus Dkk. Modul Pengembangan Pesantren dan Madrasah Santri. Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta. 2006
http://id.wikipedia.org/wiki/Andragogi
http://www.jugaguru.com/article/49/tahun/2006/bulan/10/tanggal/10/id/184/
http://re-searchengines.com/0306supriadi.html
[1] Maklah ini disajikan pada prentasi mata kuliah tafsir tarbawi yang diampu oleh Drs. H. A.f. Djunaidi MA. Pada tanggal 12 Mei 2011
[2] Mahasiswa Jurusan (PAI) Pendidikan Agama Islam FIAI UII NIM [09422019]
[3] Ibid. NIM [09422021]
[4] http://re-searchengines.com/0306supriadi.html diakses pada 10 mei 2011 pukul 3.06
[5] (Quraish Shihab). Tafsir al-Misbah Pesan, Kesan dan Keserasian al-quran. Hal. 386
[6] Ibid. Hal 386-387
[7] http://www.jugaguru.com/article/49/tahun/2006/bulan/10/tanggal/10/id/184/ Diakses pada 10 mei 2011 pukul 2.40
[8] http://id.wikipedia.org/wiki/Andragogi diakses pada tanga 10 mei 2011 pukul 3.05
[9] Ahmadi. Ideology pendidikan islam; paradigma humanism teosentris (2005)
Entry Filed under: KULIAH
1 Comment Add your own
Leave a Comment
You must be logged in to post a comment.
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed
1. Edu Kasia Andragogi | Tem&hellip | November 17th, 2011 at 4:13 am
[...] dalam pendidikan orang dewasa dikenal asumsi-asumsi tentang desain belajar Baca Selengkapnya: http://amirhamzah.students.uii.ac.id/2011/11/16/andragogi/ ← Lacaknewsonline Pantai Wartawan Objek Wisata Bernama [...]